Jumat, 25 Mei 2012

Alhabib Islamic Web Service

Alhabib Islamic Web Service

Free Download Quran: Quran - Recitation by Sheikh Abdul Rahman Al-Sudai...

Free Download Quran: Quran - Recitation by Sheikh Abdul Rahman Al-Sudai...: Share This Quran On Facebook Download Complete Quran In Win Rar Click Here To Download File Part 1 of 2 Click Here To Download File...

NIKMATI MENJADI DIRI SENDIRI

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِي

     semoga bisa menjadi pembuka pintu masa depan menjadi lebih baik untuk memantapkan langkah menatap esok hari dengan berbagai rahasia Illahi :)
yah bukan untuk mengurui ataupun apa itu istilahnya..
tapi disini ana hanya ingin berbagi bareng dan juga sebagai bahan diskusi untuk diluruskan supaya lebih indah isi didalamnya dan bermanfaat ..

nah begini
(prolognya sambil degerin lagunya opick semesta bertasbih atau instrume kitaro juga boleh boleh boleh :)

     bukan sebuah mitos atau pun rekayasa, banyak orang menjadi sukses karena berbagai jati diri yang mereka miliki. kekuatan mereka yang tiada asa untuk meraih sebuah karya yang membuatnya bangga. tanpa kita sadari sebenarnya Allah telah menciptakan kita dengan beraneka ragam dari suku, ras, bangsa, negara, hingga sampai ujung kutup. yang semuanya mempunyai bermacam-macam cara bagaimana mempertahankan kehidupannya. yahhh ana merasa tergelitik geli dengan sentilan diatas :D yah gimana ndak toh.
kalau dilihat dengan kacamata cekung maupun cembung, semua kenyataan itu tak bisa dilihat berubah menjadi kebohong. sejatinya manusia telah mempunyai keahlian masing-masing, namun dalam diri manusia juga telah tertanam sifat yang membuat para saithonirojim pada ketawa jingkrak nyengir. dimana manusia mempunyai sifat yang iri binti dengki binti kurang syukur, yang membuat kita selalu saja kurang puas, kurang bisa bersyukur akan potensi yang diberikan Allah.
    dalam konteks ini ana mencoba mengulas akan bobroknya moral negeri ini, dimana manusia hanya bisa meniru, menjiplak hak karya orang lain tanpa melihat bagaimana pengorbanannya dari tetes-tetes keringat yang terkucur untuk membuahkan sebuah karya yang dapat mendobrak kancah dunia. mungkin mereka para koruptor bangsa pun sama yakni berjiwa plagiat, yaitu yang dipikirannya hanya terukir, gimana yah dapetin duit cepet, kaya raya, bisa nangkring pakek BMW kelas kolongmerat. heh haloooooo... lo pikir cari duit tinggal copy-paste-save. jangan ngedongak keatas dong bapak ibu koruptor, cobalah berfikir bijak melihat kebawah bagaimana kalian mengangapresiasi para penemu bangsa yang udah mati-matian menemukan hal yang luar biasa, cuman dikasih selembar kertas berupa piagam. ana mencoba merenung...  hia juga yak emang orang idup mau dimakanin kertas piagam gituan yak apa ya kenyang ?. sedangkan para bapak ibu koruptor cuman bisa duduk-duduk dikursi empuk bekelnya cuman mulut, hasilnya ngalir kya gerojokan. masyaallah dimana pemimpin kita yang sebenarnya ? yang katanya orang indonesia terkenal ramah sopan, mana penggamalan pancasila yang jadi maskot bangsa kita ?
    negara ini merindukan pemimpin-pemimpin yang dimana rakyatnya kelaparan dia turun kerumah-rumah membawakan makan, yang dimana rakyatnya sakit tak bisa makan dia suapi, yang dimana dia dicemooh dia tersenyum membelai lembut. yang dimana dia dapat bersikap adil tanpa memikirkan bayaran sepeserpun, tak adakah jiwa yang terpangil untuk menjadi pemimpin banggsa yang benar-benar menjunjung tinggi nilai kejujuran, keadilan, ketulusan  ?

   rintih kami yya robb, pertemukan kami dengan jiwa-jiwa pemimpin seperti Kanjeng Nabi Muhammad SAW, kami merindu belai tutur kata lembutnya, kami merindu keadilan yang pernah tercipta..
semoga kami bisa memegang teguh petuah Engkau yya robb..
yang bisa menjadi pelipur dikala ada luka
dan menjadi pemimpin yang dapat amanah tak goyah oleh kemilau dunia yang sesaat :)
aminnnn

 , ayooo kawan-kawan kita rapatkan barisan tuk memberantas kemungkaran dan menyebarkan pesan perdamai untuk kesejahteraan kita semua dengan berprinsip teguh satu ajaran as sunnah dan Al-Qur'an nur karim. bismillahhh man jadda wa jadda :) ...
merdeka

26mei2012 dibawah temaram @izzaulhaq/01.37wib

Kesungguhan Ikhtiar Bukti Kejujuran Doa (Seri Keajaian Doa)

Salah satu syarat terkabulnya doa adalah kejujuran hati seseorang saat memanjatkannya. Dan kejujuran serta kesungguhan itu haruslah dibuktikan. Sedangkan salah satu bentuk pembuktiannya yang utama adalah dengan melakukan upaya riil dan ikhtiar sungguh-sungguh demi terwujudnya isi permohonan dalam doanya tersebut. Sehingga orang yang berdoa memohon rezeki misalnya, tidak mungkin jujur dalam doanya, jika ia tetap saja bermalas-malas dalam usaha dan ikhtiarnya untuk menyambut rezeki Allah dari jalur-jalurnya sesuai sunnatullah dan syariah-Nya sekaligus. Sebagaimana sulit dipercaya kejujuran doa seorang siswa atau mahasiswa yang ingin mendapatkan nilai istimewa dan rangking tinggi dalam ujian akhir misalnya, jika hari-harinya selama masa belajar dan termasuk sampai menjelang ujian tetap dipenuhi dengan lebih banyak bermain dan bahkan berpacaran, tidak dengan keseriusan belajar!
Maka, mari bersama mengambil ibrah dan pelajaran dari kisah inspiratif berikut ini! Selamat menyimak!
Tersebutlah sebuah sekolah di suatu daerah, dimana diantara guru-gurunya terdapat seorang yang dikenal berpaling dari ibadah kepada Allah Ta’ala, tidak menunaikan shalat, dan tidak pula melaksanakan perintah-perintah agama yang lain. Lalu ditempatkanlah di sekolah itu seorang guru baru yang baik dan saleh. Beliau menuturkan kisahnya: Saat pertama kali pergi demi menjalankan tugas mengajar – sesuai penempatan – di sekolah tersebut, dan pada waktu istirahat diantara jam-jam pelajaran, aku perhatikan guru-guru berkumpul di satu ruangan, sementara ada seorang guru yang menyendiri di ruangan lain. Maka akupun bertanya kepada mereka, mengapa dia menyendiri dan tidak bergabung bersama disini?. Mereka menjawab dengan mengatakan: Dia tidak mau shalat, maka kamipun tidak ingin dan tidak suka duduk dengannya!
Sang guru baru tersebut melanjutkan ceritanya: Aku lalu pergi dari ruang istirahat para guru, untuk duduk bersama guru yang menyendiri itu di ruangannya. Tapi dia justru menjauh dariku. Namun pada istirahat berikutnya, saat aku melakukan hal yang sama, dia sudah mulai menampakkan sikap sedikit akrab denganku. Kemudian aku berkata kepadanya: Aku datang ke daerah ini tanpa disertai seorangpun diantara anggota keluargaku. Maka jika berkenan, aku ingin tinggal bersamamu, karena aku tahu bahwa, engkaupun tinggal sendirian disini, bagaimana? Awalnya dia tampak tidak suka dan tidak berkenan dengan kata-kata dan tawaran serta permintaanku, seraya berucap: Aku ini seorang yang tidak baik! (Mungkin maksudnya bahwa, kita tidak akan cocok jika bersama, dan aku tidak akan betah tinggal dengannya! Dan mungkin saja itu ia simpulkan dari sikap umumya kawan guru terhadapnya selama ini). Namun aku buru-buru berkata kepadanya: Bagaimana kalau aku tinggal denganmu beberapa hari saja sampai aku mendapatkan tempat tinggal sendiri, dan saat itu aku akan pindah dari tempatmu? Akhirnya iapun setuju dengan opsiku tersebut.
Guru kita yang saleh ini masih melanjutkan penututurannya: Dan pada hari-hari kebersamaan kami selanjutnya, sesuai rencana, aku sengaja memberikan pelayanan kepadanya. Dimana aku biasa mencucikan pakaiannya, membuatkan makanan untuknya, membersihkan rumah, dan lain-lain. Dan itu semua aku lakukan, sementara disaat yang sama, sengaja aku tidak pernah mengungkit-ungkit atau menyinggung sedikitpun tentang keengganannya dalam mengerjakan kewajiban shalat. Sampai suatu hari aku berkata kepadanya: Baiklah kawan, insya-allah hari ini aku akan pergi mencari rumah kontrakan/kost-kostan sendiri untukku. Namun dia justru menahanku. Mungkin karena tidak ingin kehilangan layananku.
Kemudian pada suatu hari, saat kami sedang duduk bersama sambil menikmati minuman teh selepas santap siang, sebagaimana kebiasaan kami, tiba-tiba adzan asar berkumandang untuk menyeru hamba-hamba Allah. Akupun langsung meletakkan semua yang ada di tanganku dan bergegas bangkit untuk menyambut undangan Allah. Dan saat melihatku berkemas itu, temanku berkata kepadaku: Apakah engkau tidak bosan harus pergi ke masjid untuk shalat lima kali setiap hari? Aku jawab cepat: Sama sekali tidak. Aku justru merasakan kenyamanan dan menemukan ketenangan dengan shalat yang aku jalankan selama ini. Apakah engkau tidak ingin mencoba merasakannya pula? Ternyata ia merespon kata-kataku dengan positif seraya berucap: baiklah, tidak ada salahnya aku coba.
Sejurus berikutnya kamipun – untuk pertama kalinya – pergi bersama ke masjid. Namun ia pergi tanpa berwudhu terlebih dahulu. Dan aku sengaja tetap mendiamkannya. Ketika masuk masjid, kami melakukan shalat dua rakaat tahiyatul masjid. Saat itu aku berada tepat di belakangnya. Wallahu a’alam kok aku merasa itulah saat yang paling tepat untuk mendoakannya, selain doa-doaku untuknya selama ini. Maka akupun mengangkat kedua tanganku ke langit seraya bermunajat: Ya Rabbi! Sungguh aku telah berusaha semampuku untuk melakukan segalanya terhadap hamba-Mu yang ada di depanku ini. Sampai aku, dengan izin dan taufiq-Mu, berhasil memasukkannya ke dalam rumah-Mu, dan membawanya ke hadapan-Mu! Maka berikanlah kepadanya hidayah dan petunjuk-Mu, ya Rabb!
Seterusnya seusai kami shalat, akupun bertanya kepadanya: Apa yang engkau rasakan sekarang di hatimu? Ia lantas menjawabku dengan mengatakan: Sungguh sebuah perasaan nyaman dan tenang yang belum pernah kurasakan sebelumnya! Maka setelah itu kukatakan kepadanya: Nah, setelah ini nanti ada shalat maghrib, dan aku berharap agar engkau mau mandi dan wudhu terlebih dulu sebelumnya. Dan ternyata iapun sepakat untuk melakukan itu. Akhirnya, alhamdulillah segala puji dan syukur bagi Allah, singkat cerita, Allah berkenan memberinya petunjuk dan hidayah, sehingga iapun berubah rajin sekali dalam menunaikan ajaran-ajaran Islam. Sehingga kamipun berteman dan bersahabat semakin akrab dan dekat, selayaknya saudara!
Sementara itu, pada suatu waktu, akupun berkesempatan mengingatkan kawan-kawan pengajar yang lain, seraya berujar: Sikap dan perlakuan kalian terhadap saudara kita itu selama ini kurang bagus. Coba lihat, bagaimana ternyata akhirnya Allah Ta’ala memberinya hidayah, dengan sarana akhlak dan kelembutan!
Bahkan ia kemudian menjadi seorang juru dakwah yang, dengan kehendak Allah, berhasil mengislamkan banyak orang, disamping sukses menyadarkan banyak hamba Allah yang lain, yang meskipun beragama Islam namun dengan tingkat keberislaman seperti kondisinya semula saat pertama kali aku mengenalnya! Falhamdu lillahi Rabbil-‘alamin!
Oleh:Ustadz Ahmad Mudzoffar Jufri, MA
Untuk mendapat cerita dan tausiah-tausiah  lainya. silahkan gabung ke: http://goo.gl/oKKB5

Sidik Jari dan Keajaiban Al-Qur’an

Setiap orang, termasuk mereka yang terlahir kembar identik, memiliki pola sidik jari yang khas untuk diri mereka masing-masing, dan berbeda satu sama lain. Dengan kata lain, tanda pengenal manusia tertera pada ujung jari mereka. Sistem pengkodean ini dapat disamakan dengan sistem kode garis (barcode) sebagaimana yang digunakan saat ini.
Saat dikatakan dalam Al Qur’an bahwa adalah mudah bagi Allah untuk menghidupkan manusia setelah kematiannya, pernyataan tentang sidik jari manusia secara khusus ditekankan:
“Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang-belulangnya? Ya, bahkan Kami mampu menyusun (kembali) ujung jari-jarinya dengan sempurna.” (Al Qur’an, 75:3-4)
Penekanan pada sidik jari memiliki makna sangat khusus. Ini dikarenakan sidik jari setiap orang adalah khas bagi dirinya sendiri. Setiap orang yang hidup atau pernah hidup di dunia ini memiliki serangkaian sidik jari yang unik dan berbeda dari orang lain.
Itulah mengapa sidik jari dipakai sebagai kartu identitas yang sangat penting bagi pemiliknya dan digunakan untuk tujuan ini di seluruh penjuru dunia.
Akan tetapi, yang penting adalah bahwa keunikan sidik jari ini baru ditemukan di akhir abad ke-19. Sebelumnya, orang menghargai sidik jari sebagai lengkungan-lengkungan biasa tanpa makna khusus. Namun dalam Al Qur’an, Allah merujuk kepada sidik jari, yang sedikitpun tak menarik perhatian orang waktu itu, dan mengarahkan perhatian kita pada arti penting sidik jari, yang baru mampu dipahami di zaman sekarang.
Sumber:http://www.keajaibanalquran.com/biology_10.html

Ilustrasi dari Inet

10 Penghalang Keterkabulan Do’a

Seorang lelaki pernah mengadu kepada syekh Ibrahim bin Adham, “Mengapa kami sering berdo’a namun do’a-do’a kami tak kunjung terkabul.”
Syekh yang zuhud itu menjawab,
“Karena kalian telah mengenal Allah SWT sebagai Tuhan kalian, tapi kalian tidak mentaati aturan-Nya.
Kalian telah memahami bahwa Rasul adalah (panutan hidup), tapi kalian enggan mengikuti jalan hidupnya.
Kalian tahu bahwa al Qur’an adalah pedoman hidup, tapi kalian tidak mengamalkan petunjuknya.
Kalian telah mengecap berbagai nikmat pemberian Allah SWT, tapi kalian jauh dari nilai kesyukuran.
Kalian merindukan surga, tapi kalian tak mau mengejarnya.
Kalian takut kepada neraka, tapi kalian tiada lari darinya.
Kalian tahu bahwa setan itu adalah musuh, tapi kalian tidak mau memeranginya dan bahkan kalian mengikuti ajakannya.
Kalian yakin bahwa kematian itu pasti (kedatangannya), tapi kalian tidak menyiapkan diri untuk menyambutnya.
Kalian telah banyak memakamkan jenazah, tapi kalian tidak mau mengambil pelajaran darinya.
Dan kalian mengabaikan aib diri sendiri, namun kalian sibuk mengumpulkan aib orang lain.”
Wallahu a’lam bishawab..mudah-mudahan kita bisa mengambil manfaat dari nasehat ulama yang zuhud ini. Amien.
Sumber:Status Ustadz Abu Ja’far

Ilustrasi dari Inet

BERSYUKURLAH, PASTI NIKMAT BERTAMBAH

Ilustrasi dari Inet
Minimal ada dua faktor penentu utama kelas dan level syukur seseorang
Pertama, jenis dan tingkat kenikmatan apa yang lebih banyak diingat dan lebih sering disyukuri?
Kedua, dalam bentuk dan dengan cara apa saja syukur dibuktikan dan diekspresikan?
Maka syukur level tinggi adalah syukur terhadap jenis-jenis kenikmatan tingkat tinggi juga
Disamping ia adalah syukur yang dibuktikan dengan kualitas bukti syukur yang lebih tinggi dan juga kuantitas ekspresi syukur yang lebih banyak macamnya
Sebaliknya, syukur level rendah, adalah karena yang lebih banyak diingat dan disyukuri hanyalah jenis dan bentuk kenikmatan “kelas rendah”
Begitu pula, syukur ditunjukkan dengan kualitas yang rendah, dan kuantitas yang sedikit
Sementara itu, secara global, jenis kenikmatan bisa diklasifikasikan menjadi tiga tingkatan
Tingkat pertama, tingkat terendah, berupa kenikmatan materi duniawi yang bukan termasuk hajat hidup vital dan asasi, serta yang juga biasanya memiliki banyak opsi pilihan. Misanya seperti: nikmat harta dengan segala jenis dan macamnya, pekerjaan, jabatan, kedudukan, kesuksesan materi dan pilihan-pilihan kebutuhan hidup yang lainnya.
Tingkat kedua, tingkat pertengahan, adalah kenikmatan-kenikmatan yang merupakan kebutuhan-kebutuhan hidup yang bersifat vital dan sangat asasi. Seperti misalnya: nikmat hidup itu sendiri, nikmat umur, nikmat waktu, nikmat nafas, nikmat detak jantung, nikmat kelengkapan dan kesehatan fisik seperti panca indera, dan lain-lain.
Tingkat ketiga, tingkat puncak tertinggi, berupa kenikmatan-kenikmatan sejati dan hakiki. Yakni nikmat hidayah, nikmat iman, nikmat islam, nikmat ketaatan, nikmat ibadah, nikmat amal saleh, nikmat dakwah, dan seterusnya.
Nah, jika direnungkan dan dievaluasi, ternyata syukur kebanyakan kita masih berkelas “rendahan”. Hal itu antara lain, karena bentuk dan jenis kenikmatan yang lebih banyak diingat dan lebih sering disyukuri, barulah kenikmatan-kenikmatan dalam kategori tingkat pertama diatas, yang memang merupakan tingkat terendah. Bahkan persepsi kebanyakan manusia tentang kenikmatan, selalu tertuju dan teralamatkan kepada jenis-jenis kenikmatan materi duniawi ini.
Tentu saja kita tidak mengingkari bahwa, itu semua juga merupakan kenikmatan Allah yang wajib disyukuri. Jadi yang jadi masalah dan salah, bukanlah sikap mengingat dan mensyukuri kenikmatan-kenikmatan materi itu. Tidak sama sekali. Itu sudah benar, dan memang harus begitu. Setiap kenikmatan, sekecil dan serendah apapun, wajib tetap kita ingat dan syukuri!
Namun yang salah dan jadi masalah, adalah terabaikan, terlalaikan dan terlupakannya kenikmatan-kenikmatan pada tingkat yang lebih tinggi. Baik yang berada di tingkat kedua diatas, maupun bahkan yang di tingkat puncak, yang merupakan kenikmatan hakiki tak ternilai. Dan karena tidak diingat, maka tentu berarti juga tidak disyukuri. Sedangkan sikap tidak mensyukuri kenikmatan, dalam bahasa Al-Qur’an, sama dengan mengkufurinya. Disinilah perbandingat itu menjadi berat, sulit dan sangat timpang. Dimana sikap syukur akan kenikmatan-kenimatan materi duniawi yang berada di tingkat rendah di satu sisi, harus dibandingkan dan dihadapkan dengan sikap kufur terhadap kenikmatan-kenikmatan lain yang justru merupakan kenikmatan-kenikmatan yang jauh lebih inggi tingkat dan nilainya, lebih-lebih kenikmatan-kenikmatan hakiki yang berada di tingkat puncak!
Nah, jika demikian fakta dan reaalita syukur kita selama ini, bukankah yang paling kita butuhkan saat ini dan seterusnya, adalah upaya-upaya muhasabah, evaluasi dan introspeksi diri, agar meningkat dan bertambah level syukur di hati?
Maka, dalam rangka muhasabah, evaluasi dan introspeksi diri tersebut, mari banyak-banyak bertanya kepada diri sendiri, misalnya, seberapa sering selama ini kita berucap al-hamdulillah demi mengingat dan menyadari betapa tak ternilainya nikmat hidup, nikmat umur, nikmat nafas, nikmat detak jantung, nikmat kelengkapan dan kesehatan indera, dan seterusnya?
Demikian pula mari jujur pada diri sendiri dan bertanya lagi misalnya, dalam hari-hari kita sebelum ini, seberapa banyak kita selalu mengingat, menyadari dan mensyukuri kenikmatan-kenikmatan puncak dan hakiki: nikmat hidayah, nikmat iman, nikmat Islam, nikmat ibadah, nikmat amal saleh, dan lain-lain?
Bukankah kita justru lebih banyak mengabaikan, melalaikan dan melupakan kenikmatan-kenikmatan sejati dan hakiki yang tak terhingga nilainya itu?
Sekadar sebagai contoh, saat seseorang dari kita berbuka puasa misalnya, dimana berdasarkan sunnah dan realita, itu merupakan momen kegembiraan, kebahagiaan dan kesyukuran seorang muslim, biasanya hal apa yang lebih membuat yang bersangkutan bergembira, berbahagia dan bersukur saat itu? Adakah ia lebih gembira dan bahagia demi mengingat dan mensyukuri luar biasanya nikmat ibadah puasa yang baru saja sukses ditunaikannya sehari penuh? Ataukah lezatnya hidangan berbuka-lah yang lebih ia ingat dan syukuri?
Jadi, bukankah kita perlu senantiasa memuhasabahi dan mengevalusi level syukur kita?
(Bersambung insya-allah)
Oleh:Ustadz Ahmad Mudzoffar Jufri, MA