Salah satu syarat terkabulnya doa adalah
kejujuran hati seseorang saat memanjatkannya. Dan kejujuran serta
kesungguhan itu haruslah dibuktikan. Sedangkan salah satu bentuk
pembuktiannya yang utama adalah dengan melakukan upaya riil dan ikhtiar
sungguh-sungguh demi terwujudnya isi permohonan dalam doanya tersebut.
Sehingga orang yang berdoa memohon rezeki misalnya, tidak mungkin jujur
dalam doanya, jika ia tetap saja bermalas-malas dalam usaha dan
ikhtiarnya untuk menyambut rezeki Allah dari jalur-jalurnya sesuai
sunnatullah dan syariah-Nya sekaligus. Sebagaimana sulit dipercaya
kejujuran doa seorang siswa atau mahasiswa yang ingin mendapatkan nilai
istimewa dan rangking tinggi dalam ujian akhir misalnya, jika
hari-harinya selama masa belajar dan termasuk sampai menjelang ujian
tetap dipenuhi dengan lebih banyak bermain dan bahkan berpacaran, tidak
dengan keseriusan belajar!
Maka, mari bersama mengambil ibrah dan pelajaran dari kisah inspiratif berikut ini! Selamat menyimak!
Tersebutlah sebuah sekolah di suatu daerah, dimana diantara
guru-gurunya terdapat seorang yang dikenal berpaling dari ibadah kepada
Allah Ta’ala, tidak menunaikan shalat, dan tidak pula melaksanakan
perintah-perintah agama yang lain. Lalu ditempatkanlah di sekolah itu
seorang guru baru yang baik dan saleh. Beliau menuturkan kisahnya: Saat
pertama kali pergi demi menjalankan tugas mengajar – sesuai penempatan –
di sekolah tersebut, dan pada waktu istirahat diantara jam-jam
pelajaran, aku perhatikan guru-guru berkumpul di satu ruangan, sementara
ada seorang guru yang menyendiri di ruangan lain. Maka akupun bertanya
kepada mereka, mengapa dia menyendiri dan tidak bergabung bersama
disini?. Mereka menjawab dengan mengatakan: Dia tidak mau shalat, maka
kamipun tidak ingin dan tidak suka duduk dengannya!
Sang guru baru tersebut melanjutkan ceritanya: Aku lalu pergi dari
ruang istirahat para guru, untuk duduk bersama guru yang menyendiri itu
di ruangannya. Tapi dia justru menjauh dariku. Namun pada istirahat
berikutnya, saat aku melakukan hal yang sama, dia sudah mulai
menampakkan sikap sedikit akrab denganku. Kemudian aku berkata
kepadanya: Aku datang ke daerah ini tanpa disertai seorangpun diantara
anggota keluargaku. Maka jika berkenan, aku ingin tinggal bersamamu,
karena aku tahu bahwa, engkaupun tinggal sendirian disini, bagaimana?
Awalnya dia tampak tidak suka dan tidak berkenan dengan kata-kata dan
tawaran serta permintaanku, seraya berucap: Aku ini seorang yang tidak
baik! (Mungkin maksudnya bahwa, kita tidak akan cocok jika bersama, dan
aku tidak akan betah tinggal dengannya! Dan mungkin saja itu ia
simpulkan dari sikap umumya kawan guru terhadapnya selama ini). Namun
aku buru-buru berkata kepadanya: Bagaimana kalau aku tinggal denganmu
beberapa hari saja sampai aku mendapatkan tempat tinggal sendiri, dan
saat itu aku akan pindah dari tempatmu? Akhirnya iapun setuju dengan
opsiku tersebut.
Guru kita yang saleh ini masih melanjutkan penututurannya: Dan pada
hari-hari kebersamaan kami selanjutnya, sesuai rencana, aku sengaja
memberikan pelayanan kepadanya. Dimana aku biasa mencucikan pakaiannya,
membuatkan makanan untuknya, membersihkan rumah, dan lain-lain. Dan itu
semua aku lakukan, sementara disaat yang sama, sengaja aku tidak pernah
mengungkit-ungkit atau menyinggung sedikitpun tentang keengganannya
dalam mengerjakan kewajiban shalat. Sampai suatu hari aku berkata
kepadanya: Baiklah kawan, insya-allah hari ini aku akan pergi mencari
rumah kontrakan/kost-kostan sendiri untukku. Namun dia justru menahanku.
Mungkin karena tidak ingin kehilangan layananku.
Kemudian pada suatu hari, saat kami sedang duduk bersama sambil
menikmati minuman teh selepas santap siang, sebagaimana kebiasaan kami,
tiba-tiba adzan asar berkumandang untuk menyeru hamba-hamba Allah.
Akupun langsung meletakkan semua yang ada di tanganku dan bergegas
bangkit untuk menyambut undangan Allah. Dan saat melihatku berkemas itu,
temanku berkata kepadaku: Apakah engkau tidak bosan harus pergi ke
masjid untuk shalat lima kali setiap hari? Aku jawab cepat: Sama sekali
tidak. Aku justru merasakan kenyamanan dan menemukan ketenangan dengan
shalat yang aku jalankan selama ini. Apakah engkau tidak ingin mencoba
merasakannya pula? Ternyata ia merespon kata-kataku dengan positif
seraya berucap: baiklah, tidak ada salahnya aku coba.
Sejurus berikutnya kamipun – untuk pertama kalinya – pergi bersama ke
masjid. Namun ia pergi tanpa berwudhu terlebih dahulu. Dan aku sengaja
tetap mendiamkannya. Ketika masuk masjid, kami melakukan shalat dua
rakaat tahiyatul masjid. Saat itu aku berada tepat di belakangnya.
Wallahu a’alam kok aku merasa itulah saat yang paling tepat untuk
mendoakannya, selain doa-doaku untuknya selama ini. Maka akupun
mengangkat kedua tanganku ke langit seraya bermunajat: Ya Rabbi! Sungguh
aku telah berusaha semampuku untuk melakukan segalanya terhadap
hamba-Mu yang ada di depanku ini. Sampai aku, dengan izin dan taufiq-Mu,
berhasil memasukkannya ke dalam rumah-Mu, dan membawanya ke hadapan-Mu!
Maka berikanlah kepadanya hidayah dan petunjuk-Mu, ya Rabb!
Seterusnya seusai kami shalat, akupun bertanya kepadanya: Apa yang
engkau rasakan sekarang di hatimu? Ia lantas menjawabku dengan
mengatakan: Sungguh sebuah perasaan nyaman dan tenang yang belum pernah
kurasakan sebelumnya! Maka setelah itu kukatakan kepadanya: Nah, setelah
ini nanti ada shalat maghrib, dan aku berharap agar engkau mau mandi
dan wudhu terlebih dulu sebelumnya. Dan ternyata iapun sepakat untuk
melakukan itu. Akhirnya, alhamdulillah segala puji dan syukur bagi
Allah, singkat cerita, Allah berkenan memberinya petunjuk dan hidayah,
sehingga iapun berubah rajin sekali dalam menunaikan ajaran-ajaran
Islam. Sehingga kamipun berteman dan bersahabat semakin akrab dan dekat,
selayaknya saudara!
Sementara itu, pada suatu waktu, akupun berkesempatan mengingatkan
kawan-kawan pengajar yang lain, seraya berujar: Sikap dan perlakuan
kalian terhadap saudara kita itu selama ini kurang bagus. Coba lihat,
bagaimana ternyata akhirnya Allah Ta’ala memberinya hidayah, dengan
sarana akhlak dan kelembutan!
Bahkan ia kemudian menjadi seorang juru dakwah yang, dengan kehendak
Allah, berhasil mengislamkan banyak orang, disamping sukses menyadarkan
banyak hamba Allah yang lain, yang meskipun beragama Islam namun dengan
tingkat keberislaman seperti kondisinya semula saat pertama kali aku
mengenalnya! Falhamdu lillahi Rabbil-‘alamin!
Oleh:Ustadz Ahmad Mudzoffar Jufri, MA
Untuk mendapat cerita dan tausiah-tausiah lainya. silahkan gabung ke: http://goo.gl/oKKB5